Hadiri kajian sabtu malam, bertajuk “Pelajaran Dari Surat Rasulullah Kepada Heraklius Penguasa Roma”
Sabtu, 4 Februari 2012
Masjid Darul Ulum, SMA 11 Yogya
Pemateri: Ust. M. Asdi Nurkholis
Umum – Khusus Putra
Hadiri kajian sabtu malam, bertajuk “Pelajaran Dari Surat Rasulullah Kepada Heraklius Penguasa Roma”
Sabtu, 4 Februari 2012
Masjid Darul Ulum, SMA 11 Yogya
Pemateri: Ust. M. Asdi Nurkholis
Umum – Khusus Putra
Oleh : Ustadz Alfi Syahar M.A
Menafsirkan satu ayat Alquran dengan ayat Alquran yang lain, adalah jenis penafsiran yang paling tinggi. Karena ada sebagian ayat Alquran itu menerangkan makna ayat-ayat yang lain. Contohnya ayat, yang artinya : “ Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak pernah merasa cemas dan tidak pula merasa bersedih hati.” [QS.Yunus : 62].
Lafadz Auliya’ (wali-wali), ditafsirkan dengan ayat berikutnya yang artinya : “ Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” [QS.Yunus : 63].
Berdasarkan ayat di atas maka setiap orang yang benar-benar mentaati perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, maka mereka itu adalah Wali Allah. Tafsiran ini sekaligus sebagai bantahan orang-orang yang mempunyai anggapan, bahwa Wali itu ialah orang yang mengetahui perkara-perkara ghaib, memiliki kesaktian, di atas kuburnya terdapat bangunan kubah yang megah, atau keyakinan-keyakinan yang bathil yang lain. Dalam hal ini, Karomah bukan sebagai syarat untuk membuktikan orang itu wali atau bukan. Karena Karomah itu bisa saja tampak bisa juga tidak.
Adapun hal –hal yang aneh yang ada pada diri sebagian orang-orang sufi dan orang-orang Ahli Bid’ah, adalah sihir, seperti yang sering terjadi pula pada orang-orang Majusi di India dan lain sebagainya. Itu sama sekali bukan Karomah, tetapi sihir seperti yang di firmankan Allah, artinya : “Terbayang kepada Musa, seolah-olah ia merayap cepat lantaran sihir mereka.” [QS. Thaha :66].
Menafsirkan ayat Alquran dengan hadits shahih sangatlah penting, bahkan harus. Allah menurunkan Alquran kepada Rasulullah tidak lain supaya diterangkan maksudnya kepada semua manusia. Firman Allah, yang artinya : “… Dan Kami turunkan Alquran kepadamu (Muhammad) supaya kamu terangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka pikirkan.” [QS. An-Nahl : 44].
Rasulullah bersabda yang artinya : “ Ketahuilah, aku sungguh telah diberi Alquran dan yang seperti Alquran bersama-sama.” [HR. Abu Daud].
Berikut beberapa contoh Tafsirul ayat bil hadits :
Tambahan di sini menurut keterangan Rasulullah, ialah berupa kenikmatan melihat Allah. Beliau bersabda yang artinya : “ Lantas tirai itu terbuka sehingga mereka dapat melihat Tuhannya, itu lebih mereka sukai dari pada apa-apa yang di berikan kepada mereka. “ kemudian Beliau membaca ayat ini. [HR.Muslim].
Menurut Abdullah bin Mas’ud, para Sahabat merasa keberatan karenanya. Kemudian mereka pun bertanya , “ Siapa di antara kami yang tidak mendzalimi dirinya ya Rasul ?” Beliau menjawab, “ Bukan itu maksudnya. Tetapi yang dimaksud kedzaliman di ayat itu adalah Syirik. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman kepada putranya yang artinya : “ Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Karena perbuatan Syirik (menyekutukan Allah) itu sungguh kedzaliman yang sangatlah besar.” [HR. Muslim].
Dari ayat dan hadits itu dapat di ambil kesimpulan : Kedzaliman itu urutannya bertingkat-tingkat. Perbuatan maksiat itu tidak disebut Syirik. Orang yang tidak menyekutukan Allah, mendapat keamanan dan petunjuk.
Merujuk kepada penafsiran Sahabat terhadap ayat-ayat Al Qur’an seperti Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud sangatlah penting sekali untuk mengetahui maksud suatu ayat. Karena, disamping senantiasa menyertai Rasulullah, mereka juga belajar langsung dari Beliau. Berikut ini contoh Tafsir dengan ucapan Sahabat, tentang ayat yang artinya : “ Yaitu Tuhan yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [QS. Thaha : 5].
Al Hafidz Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Baari berkata, Menurut Ibnu ‘Abbas dan para Ahli Tafsir lain, Istiwa itu maknanya Irtafa’a (naik atau meninggi).
Tidak di ragukan lagi, untuk bisa memahami dan menafsirkan ayat-ayat Alquran , mengetahui gramatika bahasa arab sangatlah penting. Karena Alquran diturunkan dalam bahasa Arab.
Firman Allah yang artinya : “ Sungguh kami turunkan Alquran dengan bahasa Arab supaya kamu memahami.” [QS. Yusuf : 2].
Tanpa mengetahui bahasa arab, tidak mungkin bisa memahami makna ayat-ayat Al qur’an. Sebagai contoh ayat : Tsummas tawaa ilas samaa’i. makna Istiwa ini banyak di perselisihkan. Kaum Mu’tazilah mengartikannya menguasai dengan paksa. Ini jelas penafsiran yang sangat keliru. Tidak sesuai dengan bahasa arab. Yang benar, menurut pendapat para Ahli Sunnah Wal Jama’ah, Istiwaa artinya ‘ala wa Irtafa’a (meninggi dan naik). Karena Allah mensifati dirinya dengan Al-‘Ali (Maha Tinggi).
Anehnya banyak orang penganut faham Mu’tazilah yang menafsiri lafadz Istawa dengan Istaula. Pemaknaan seperti ini banyak tersebar di dalam kitab-kitab Tafsir, Tauhid dan ucapan-ucapan orang. Mereka jelas mengingkari ke-Maha Tinggian Allah yang jelas-jelas tercantum dalam ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits-hadits yang shahih, perkataan para sahabat dan para Tabi’in, mereka mengingkari bahasa Arab di mana Alquran diturunkan dengan bahasa itu. Al Imam Ibnu Al Qayyim berkata, Allah memerintahkan orang-orang Yahudi supaya mengucapkan “Hitthotun” (bebaskan kami dari dosa), tapi mereka rubah menjadi “Hinthotun” (biji gandum). Ini sama dengan kaum Mu’tazilah yang mengartikan Istiwa dengan arti Istaula.
Contoh kedua, pentingnya bahasa arab dalam menafsirkan suatu ayat, misalkan ayat yang artinya : “ Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah ( yang Haq ) melainkan Allah…” [QS. Muhammad : 19].
Ilah artinya Al Ma’bud ( yang di sembah) maka kalimat Laa ilaaha Illallaah, artinya La Ma’buuda illallaah (tidak ada yang patut di sembah kecuali Allah). Sesuatu yang di sembah selain Allah itu banyak ; Orang-orang Hindu di India menyembah sapi. Pemeluk Nashrani menyembah ‘Isa Al Masih, tidak sedikit dari kaum muslimin sangat di sesalkan karena menyembah para wali dan berdo’a meminta sesuatu kepadanya. Padahal, dengan tegas Rasulullah berkata, Artinya :” Do’a itu ibadah.” [HR.Tirmidzi].
Karena sesuatu yang dijadikan sesembahan oleh manusia banyak macamnya, maka dalam menafsirkan ayat diatas harus ditambah dengan kata Haq sehinggan maknanya menjadi Laa Ma’buuda Haqqon Illallaah ( tidak ada sesembahan yang Haq kecuali Allah). Dengan begitu, semua sesembahan-sesembahan yang bathil yakni selain Allah, keluar atau tidak masuk dalam kalimat tersebut. Dalilnya ialah ayat berikut, yang artinya : “ Demikianlah, karena sesungguhnya Allah. Dialah yang Haq. Dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang bathil.” [QS. Luqman : 30].
Dengan di artikannya makna Ilah menjadi Al Ma’buud, maka jelaslah kekeliruan kebanyakan kaum muslimin yang berkeyakinan bahwa Allah ada di mana-mana dan mengingkari ketinggian Nya di atas ‘Arsy dengan memakai dalil ayat berikut ini, yang artinya : “ Dan Dialah Tuhan di langit dan Tuhan di Bumi.” [QS. Az-Zukhruf : 84].
Sekiranya mereka mamahami arti Ilah dengan benar, niscaya mereka tidak memakai dalil ayat tersebut. Yang benar, seperti yang telah di terangkan di atas, Al Ilah itu artinya Al Ma’buud sehingga ayat itu artinya menjadi : “ Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di Bumi.”
Contoh ke tiga, pentingnya Gramatika bahasa arab untuk supaya bisa menafsirkan ayat dengan benar, ialah mengetahui ungkapan kata akhir tapi didahulukan, dan kata depan namun ditaruh di akhir kalimat. Sebagai contoh, Firman Allah : “ Iyyaaka na’budu wa Iyyaaka nasta’in.” Artinya : “Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu pula kami memohon pertolongan.” [QS Al Fatihah : 5].
Di dahulukan kata Iyyaaka atas kata kerja Na’budu dan Nasta’in, ialah untuk pembatas dan pengkhususan, maka maksudnya menjadi Laa Na’budu illa iyyaaka walaa nasta’iinu illa bika yaa Allah, wanakhusshuka bil ‘ibaadah wal ‘Isti’aanah wahdaka. ( kami tidak menyembah siapa pun kecuali hanya kepada-Mu. Kami tidak memohon pertolongan kecuali hanya kepada-Mu, ya Allah. Dan hanya kepada-Mu saja kami memohon beribadah serta memohon pertolongan).
Mengetahui Asbabun Nuzul (peristiwa yang melatari turunnya ayat) sangat membantu sekali dalam memahami Alquran dengan benar.
Sebagai contoh, ayat yang artinya : “ katakanlah : panggilah mereka yang kamu anggap sebagai (Tuhan) selain Allah, mereka tidak akan meiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu juga mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara meraka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan Rahmat-Nya, serta takut akan Adzb-Nya. Karena adzab Tuhanmu itu sesuatu yang mesti ditakuti.” [QS.Al-Israa’ :56-57].
Ibnu Mas’ud berkata : Segolongan manusia ada yang menyembah segolongan Jin, lantas sekelompok Jin utu masuk Islam. Karena yang lain tetap bersikukuh dengan peribadahannya, maka turunlah ayat “ Orang-orang yang mereka seru itu juga mencari jalan kepada Tuhan Mereka [Muttafaqun’Alaihi].
Ayat itu sebagai bantahan terhadap orang-orang yang menyeru dan bertawassul kepada para Nabi atau para Wali. Namun, sekiranya orang-orang itu bertawassul kepada keimanan dan kecintaan mereka kepada para Nabi atau Wali, maka Tawassul semacam ini di bolehkan.
Wallahu’alam bis Showab
Maraji’ : Kaifa Nafhamul Qur’an, oleh : Muhammad ibnu Jamil Zainu
Alhamdulillah acara Musyawarah Kerja Daerah (Musykerda) DPD Wahdah Islamiyah Yogyakarta berjalan dengan baik. Acara ini diselenggarakan pada hari ahad tanggal 22 Januari 2012 di Wisma Dikla PU Kota Yogyakarta. Musykerda ini mengambil tema “Optimalisasi Kerja Dakwah Dalam Bingkai Ukhuwah Islamiyah”
Selaku pembawa acara ialah Ustadz Alfi Syahar, Lc. MA. Acara dibagi menjadi 3 bagian yakni bagian pertama ialah acara sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh penasehat DPD Wahdah Islamiyah Yogyakarta Bapak Muhammad Agung Bramantya, MT., M.Eng., Phd. Beliau menyampaikan agar dakwah yang dibawa oleh Wahdah Islamiyah di Yogyakarta harus bisa bersifat unik sebagaimana kultur dari masyarakat Yogyakarta yang unik jika dibandingkan dengan masyarakat di tempat lain. Semoga ke depan dakwah yang dibawa oleh Wahdah Islamiyah dapat lebih memasyarakat dan lebih baik.
Kemudian sambutan kedua disampaikan oleh Ustadz Abu Ayyub selaku ketua DPD Wahdah Islamiyah Yogyakarta. Beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh panitia karena atas terselenggaranya acara ini. Tak lupa juga beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada serta seluruh pengurus atas kerjasamanya di dalam dakwah selama dua tahun ini.
Ustadz Abu Ayyub juga menyampaikan beberapa progres dan laporan perkembangan program-program yang telah dilakukan oleh DPD Wahdah Islamiyah Yogyakarta dari mulai pendirian PAUD Wahdah yakni Taman Tahfidz Qur’an, terselenggaranya dengan baik program DIROSA (Dirasah Untuk Orang Dewasa) sebuah program untuk mengajarkan kepada orang yang telah dewasa untuk dapat membaca Al-Qur’an dengan 20 kali pertemuan. Di bidang sosial Wahdah Islamiyah Yogyakarta juga mengadakan program bakti sosial berupa pengobatan gratis. Kemudian tak lupa pertambahan yang cukup pesat beberapa pusat-pusat kajian keIslaman dan beberapa program-program lain-lain yang turut serta membantu menyebarkan dakwah Islam ke masyarakat secara umum. Di akhir dari ceramahnya Ustadz Abu Ayyub menyampaikan bahwa DPD Wahdah Islamiyah Yogyakarta siap untuk bekerja sama dengan Kementrian Agama Kabupaten Yogyakarta di dalam menjalankan visi dan misi dari Kementrian Agama Kabupaten Yogyakarta
Sambutan ketiga disampaikan oleh Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Yogyakarta Bapak Fathoni sekaligus membuka secara resmi acara Musykerda DPD Wahdah Islamiya Yogyakarta ini. Dalam ceramahnya beliau menyampaikan beberapa hal diantaranya ialah penyampaian visi dan misi dari Kementrian Agama Republik Indonesia. Kemudian menyampaikan nasehat pentingnya ormas Islam dalam berdakwah dan membimbing umat Islam. Dan yang tak kalah penting ialah menyampaikan peran penting dari ormas Islam agar jangan sampai umat Islam ini mudah terkena pemahaman aliran sesat yang mungkin semakin banyak berkembang di Indonesia. Harapan besar dari Bapak Fathoni selain itu ialah agar Wahdah Islamiyah dapat bekerja sama dengan lembaga dakwah Islam yang lain. Menjawab pernyataan dari Ustadz Abu Ayyub, Bapak Fathoni menyampaikan bahwa tugas dari Kementrian Agama ialah membimbing umat dan memfasilitasi kegiatan sesuai dengan kemampuan.
Terakhir adalah ialah serah terima kenang-kenangan dari DPD Wahdah Islamiyah Yogyakarta kepada Bapak Fathoni yang kemudian selanjutnya diisi sambutan oleh Ustadz Ridwan Hamidi, Lc. M.A, M.P.I. Acara terakhir ialah penutup. Ini merupakan bagian pertama dari acara Musykerda DPD Wahdah Islamiyah Yogyakarta.
Bagian kedua dari acara ini ialah paparan dari tiap-tiap Departemen dalam rencanan dua tahun ke depan. Dan bagian terakhir dari terakhir acara ini diisi taujihat oleh Al Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, Lc. MA. Selaku Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah Pusat.
Oleh Ustadz Alfi Syahar, M.A
Bagi setiap muslim khususnya para Da’i, memilih kalimat dan kata-kata yang baik amatlah penting dan perlu. Sebab kesalahan dalam memilih kata terkadang akan menyebabkan kesalah pahaman yang justru membuat orang lari menjauh.tulisan ini bertujuan agar kita tahu metode dan cara-cara terpilih dalam merangkai ucapan yang baik, tatkala menunjukan orang lain kepada kebaikan, yang mencerminkan cinta dan kasih sayang serta dapat menyentuh hati.
Bagaimana kalimat yang baik itu ?
Diantara hal-hal pokok yang dapat dijadikan tolak ukur dari kalimat yang baik adalah apabila :
Di samping itu kalimat yang baik juga memiliki ciri-ciri, di antaranya adalah :
Dalil-dalil berkaitan dengan kalimat yang baik
“Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” [QS.Al Baqarah : 83]
“ Dan katakanlah kepada Hamba-hambaKu, Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)” [QS. Al Israa’: 53].
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi shadaqah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kami kelak memberi kepadanya pahala yang besar”. [QS. An Nisaa: 14].
“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih” [QS.Faathir :10].
“Jagalah diri kalian dari api neraka walau hanya sebiji buah kurma dan kalau kalian tidak memilikinya, maka dengan kalimat yang baik.” [HR.Bukhari]
Maka kalimat yang baik dapat menjadi salah satu sebab keselamatan dari Neraka. Dan boleh jadi seseorang Da’i menyampaikan ucapan yang baik, dengan niat yang benar, lalu dengannya Allah menyelamatkan orang lain dari Neraka, maka layak bagi Da’i tersebut untuk mendapatkan balasan yang semisalnya dari Allah, yaitu diselamatkan dari api neraka. Karena balasan adalah setimpal dengan apa yang telah dikerjakan.
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat yang diridhai Allah, yang ia tanpa sangka-sangka ternyata dengan kalimat itu Allah mengangkatnya beberapa derajat.” [HR.Bukhari]
Betapa besar karunia dan keutamaan yang Allah berikan kepada hambaNYa apalagi bagi para Da’i yang memberikan kalimat-kalimat yang baik kepada orang lain, kelak Allah akan membalas dengan keridhaanNya dan mengangkat derajat di Syurga.
“Dan kalimat yang baik adalah (merupakan) shadaqah.” [HR.Bukhari].
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau diam.” [HR.Bukhari dan Muslim].
Merupakan salah satu dari buah keimanan kepada Allah dan hari akhir adalah seseorang berbicara yang baik dan memberi manfaat bagi dirinya, orang lain dan umat.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, Rasulullah pernah memberitahukan bahwa Syurga ada kamar yang bagian luarnya tampak dari dalam dan bagian dalamnya tampak dari luar. Ketika ditanyakan untuk siapakah kamar itu, maka Rasulullah menjawab :
“Bagi orang yang baik perkataanya, memberikan makan, dan bangun (shalat) malam ketika orang sedang tidur.” [Shahih riwayat Ath Thabrani dan Al Hakim].
Beberapa Faidah kalimat yang baik
Kalimat yang baik dan senyum.
Senyum atau wajah berseri-seri biasanya merupakan pasangan dari kalimat yang baik, bahkan keduanya merupakan dua hal yang sangat sulit untuk dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Maka setiap muslim dan lebih khusus para Da’i hendaknya selalu berhias dengan dua perilaku ini di hadapan orang lain. Sehinggan terjalin hubungan yang harmonis dan saling bersikap lembut. Sebab tidak ada kebaikan pada diri seseorang yang tidak mau bersikap lembut dan tidak mau diajak lembut.
Seorang sahabat Rasulullah Jarir Al Bajaliy berkata: “Tidak penah aku melihat Rasulullah di hadapanku kecuali pasti Beliau tersenyum.”
Sebagai perbandingan atau rumus adalah, kalimat yang baik bila digabungkan dengan senyum (muka yang berseri) maka akan menghasilkan cinta dan kelembutan.
Rasulullah merupakan orang yang paling baik ucapannya, Beliau banyak diam, namun kalau berbicara selalu fasih dan benar. Beliau tidak pernah berbicara, kecuali yang dibutuhkan, selalu cerah dan bergembira, mempermudah orang, lemah lembut kepada orang lain, tidak kasar atau keras, tidak membentak-bentak atau teriak, tidak berkata kotor maupun mencela. Selalu berkata benar dan tidak berbicara kecuali karena mengharap ridha dan pahala Allah. Inilah sebagian dari sifat Rasulullah yang disebut oleh Allah sebagai manusia ‘ala khluqin ‘adzim (memiliki akhlaq yang agung) [QS. Al Qalam : 4].
Bagaimana berbicara dengan orang lain ?
Islam mengajarkan adab berbicara dengan orang lain dan kaidah yang dituntut agar selalu dijaga. Dengan menerapkannya, maka seorang muslim berarti telah berusaha untuk berada dalam koridor yang ditetapkan oleh Allah dan beramal diatas keridhaan-Nya serta menjauhi kemurkaanNya.
Adab-adab tersebut :
Nabi telah mengajarkan kepada para sahabatnya tentang perilaku dan jalan hidup beserta penerapannya. Yaitu dengan memberikan kepada orang yang memiliki keutamaan dan kedudukan apa yang sesuai untuknya, baik itu dalam masalah imamah ‘uzhma, dalam keamiran yang skalanya lebih kecil , dalam masalah imam shalat, serta dalam berbagai sikap dan perilaku dalam bermasyarakat secara umum.
Wallahu’alam.
Maraji’ : Kutaib “Al Kalimah Ath Thayyibah Kaifa Tastatsmiruha Da’awiyan” oleh Khalid bin Abdurrahman Ad Darwisy, terbitan Daarul Wathan, Riyadh.
DPD Wahdah Islamiyah Yogyakarta insya Alloh akan mengadakan Musykerda (Musyawarah Kerja Daerah) yang akan diselenggarakan pada tanggal 22 Januari 2012 di Pusdiklat PU. Acara ini akan dihadiri oleh Ketua DPD Wahdah Islamiyah Yogyakarta Ustadz Abu Ayyub Pardiono, Kemenag Kota Yogyakarta, Penasihat DPD WIY Ustadz Muhammad Jazir ASP, Ustadz Ridwan Hamidi, Lc. MPI, Bapak Muhammad Agung Bramantya, MT.,M.Eng.,Phd. Acara ini akan dihadiri langsung oleh Pimpinan Umum DPP Wahdah Islamiyah Ustadz Zaitun Rasmin, Lc. MA.
Rangkaian acara Musykerda akan membahas program kerja dari DPD Wahdah Islamiyah Yogyakarta dan Lembaga Muslimah (LM) beberapa tahun kedepan sekaligus Upgrading pengurus. Semoga Alloh selalu memberikan pertolongan dan kemudahan agar dimudahkan dalam acara ini dan semoga akan menghasilkan buah yang baik bagi perkembangan dakwah Ahlu Sunnah wal Jama’ah kedepan.
SMP-SMA Islam Terpadu Wahdah Islamiyah gelar program baru sekolah “Hari Gizi” yang pertama kalinya dilaksanakan oleh sekolah yang saat ini dipimpin oleh Ustadz Darmin Yusuf, S.Ag (Kasek SMP) dan Drs.Muhammad Yusuf (Kasek SMA) dimaksudkan sebagai bentuk kesadaran untuk mewujudkan masyarakat sekolah peduli gizi demi produktifitas dan prestasi.
Acara ini dikemas dalam dua bentuk kegiatan utama yakni Kampanye Budaya Hidup Sehat (KBHS) dan Konsumsi Massal Susu Kedelai (KMSK) yang diperuntukkan untuk seluruh siswa dan guru. Tema kegiatan ini yakni “Gizi Seimbang Kunci Kita Sehat dan Produktif”.
Acara ini digelar Sabtu 14 Januari 2012 di Kampus SMP-SMA Islam Terpadu Wahdah Islamiyah Perumnas Antang Manggala Raya Blok VII mulai Pukul 10.00 – selesai. Acara serupa juga sudah digelar 10 Desember 2011 yang lalu.
Dalam rilis berita yang dikirim pihak sekolah, Guru Penanggung Jawab Kegiatan Ustadz Fadly A.Amir, S,Pd, mengungkapkan bahwa Hari Gizi yang rencana digelar rutin ini, selain untuk mengkampanyekan hidup sehat dan bersih juga tujuan utamanya adalah mensosialisasikan hasil produksi siswa yang tergabung dalam kegiatan Ekstrakurikuler sekolah (Ekskul) Sains Aplikasi yakni Susu Kedelai “Soy Sweet” yang dibuat dalam berbagai rasa.
Kegiatan ini juga menjadi ajang penilaian terhadap produk siswa dari sisi kelayakan daya terima konsumen dengan memanfaatkan panelis sebanyak jumlah siswa. “Harapannya produk sekolah tersebut dapat diproduksi secara berkesinambungan dalam rangka menciptakan iklim kewirausahaan dan kemandirian dalam pribadi setiap siswa”, terang pembina Ekskul yang ambil stand pameran di arena muktamar yang lalu
sumber : wahdah.or.id
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah, pernah ditanya,
“Apa hukum mengucapkan selamat natal (Merry Christmas) pada orang kafir (Nashrani) dan bagaimana membalas ucapan mereka? Bolehkah kami menghadiri acara perayaan mereka (perayaan Natal)? Apakah seseorang berdosa jika dia melakukan hal-hal yang dimaksudkan tadi, tanpa maksud apa-apa? Orang tersebut melakukannya karena ingin bersikap ramah, karena malu, karena kondisi tertekan, atau karena berbagai alasan lainnya. Bolehkah kita tasyabbuh (menyerupai) mereka dalam perayaan ini?”
Beliau rahimahullah menjawab :
Memberi ucapan Selamat Natal atau mengucapkan selamat dalam hari raya mereka (dalam agama) yang lainnya pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca : ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya ‘Ahkamu Ahlidz Dzimmah’. Beliau rahimahullah mengatakan,
“Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.
Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” –Demikian perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah-
Dari penjelasan di atas, maka dapat kita tangkap bahwa mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. Alasannya, ketika mengucapkan seperti ini berarti seseorang itu setuju dan ridha dengan syiar kekufuran yang mereka perbuat. Meskipun mungkin seseorang tidak ridha dengan kekufuran itu sendiri, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk ridha terhadap syiar kekufuran atau memberi ucapan selamat pada syiar kekafiran lainnya karena Allah Ta’ala sendiri tidaklah meridhai hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,
“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (QS. Az Zumar [39] : 7)
Allah Ta’ala juga berfirman,
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat- Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah [5] : 3)
Apakah Perlu Membalas Ucapan Selamat Natal?
Memberi ucapan selamat semacam ini pada mereka adalah sesuatu yang diharamkan, baik mereka adalah rekan bisnis ataukah tidak. Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka pada kita, maka tidak perlu kita jawab karena itu bukanlah hari raya kita dan hari raya mereka sama sekali tidak diridhai oleh Allah Ta’ala. Hari raya tersebut boleh jadi hari raya yang dibuat-buat oleh mereka (baca : bid’ah). Atau mungkin juga hari raya tersebut disyariatkan, namun setelah Islam datang, ajaran mereka dihapus dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran Islam ini adalah ajaran untuk seluruh makhluk.
Mengenai agama Islam yang mulia ini, Allah Ta’ala sendiri berfirman,
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imron [3] : 85)
Bagaimana Jika Menghadiri Perayaan Natal?
Adapun seorang muslim memenuhi undangan perayaan hari raya mereka, maka ini diharamkan. Karena perbuatan semacam ini tentu saja lebih parah daripada cuma sekedar memberi ucapan selamat terhadap hari raya mereka. Menghadiri perayaan mereka juga bisa jadi menunjukkan bahwa kita ikut berserikat dalam mengadakan perayaan tersebut.
Bagaimana Hukum Menyerupai Orang Nashrani dalam Merayakan Natal?
Begitu pula diharamkan bagi kaum muslimin menyerupai orang kafir dengan mengadakan pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah), atau membagi-bagikan permen atau makanan (yang disimbolkan dengan ‘santa clause’ yang berseragam merah-putih, lalu membagi-bagikan hadiah, pen) atau sengaja meliburkan kerja (karena bertepatan dengan hari natal). Alasannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim mengatakan,
“Menyerupai orang kafir dalam sebagian hari raya mereka bisa menyebabkan hati mereka merasa senang atas kebatilan yang mereka lakukan. Bisa jadi hal itu akan mendatangkan keuntungan pada mereka karena ini berarti memberi kesempatan pada mereka untuk menghinakan kaum muslimin.” – Demikian perkataan Syaikhul Islam-
Barangsiapa yang melakukan sebagian dari hal ini maka dia berdosa, baik dia melakukannya karena alasan ingin ramah dengan mereka, atau supaya ingin mengikat persahabatan, atau karena malu atau sebab lainnya. Perbuatan seperti ini termasuk cari muka (menjilat), namun agama Allah yang jadi korban. Ini juga akan menyebabkan hati orang kafir semakin kuat dan mereka akan semakin bangga dengan agama mereka.
Allah-lah tempat kita meminta. Semoga Allah memuliakan kaum muslimin dengan agama mereka. Semoga Allah memberikan keistiqomahan pada kita dalam agama ini. Semoga Allah menolong kaum muslimin atas musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Mulia.
Sumber: (Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin), 3/28-29, o. 404. (wimakassar.org)