Belajar Islam

Islam Untuk Semua

Friday, Mar 12th

Last update:09:28:03 AM GMT

You are here:

Tentukanlah Tujuan Hidupmu! (Bagian 2)

E-mail PDF

Tentukanlah Tujuan Hidupmu! (Bagian 2 dari 2 Artikel)

oleh Al-Akh Arie Permadi*

 

Maka dengan suka cita, para penumpang yang telah berhasil mengumpulkan permata di pulau itu menunjukkan bawaan mereka kepada sang raja. Raja senang. Ia memuji mereka seraya berkata:”Kalian adalah orang-orang khususku, ahli majelis dan kecintaanku. Kalian boleh mendapatkan apa saja yang kalian inginkan dari kemurahanku.” Sang raja kemudian mengangkat mereka menjadi raja-raja seraya memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan. Bila mereka meminta, mereka akan diberi.


Saat mereka memberi syafa’at, syafa’at mereka dikabulkan. Apa yang mereka inginkan semua ada di situ. Kepada mereka disampaikan: “Ambillah apa yang kalian inginkan dan putuskanlah apa yang kalian kehendaki!” Merekapun segera mengambil istana-istana, rumah-rumah tinggi dan mewah, bidadari-bidadari, taman-taman dan wilayah kekuasaan. Mereka juga mengendarai berbagai kendaraan. Berjalan diiringi para budak dan pengawal yang setia mengawal mereka. Mereka menjadi penguasa yang selalu mengunjungi, menemani dan memandang sang raja yang diagungkan. Bila mereka meminta sesuatu, raja akan segera memberinya. Bahkan sebelum mereka memintanya pun, sang rajalah yang akan terlebih dahulu memberikan pada mereka.

Adapun kelompok penumpang kedua, saat mereka ditanya,”Dimanakah gerangan barang bawaan kalian?, mereka menjawab:”Kami tidak mempunyai barang bawaan…”

“Celakalah kalian! Bukankah kalian telah berada di tambang emas dan permata? Bukankah kalian dan mereka yang telah menjadi kekasih sang raja yang diagungkan itu pernah berada dalam tempat yang sama??”

“Iya, tentu saja. Namun kami lebih memilih untuk berleha-leha dan tidur di sana”, jawab mereka.
“Kami disibukkan untuk membangun rumah dan tempat tinggal,” jawab yang lain.
“Sementara kami disibukkan hanya untuk mengumpulkan bebatuan dan kerang,” ujar yang lain lagi. Maka dikatakanlah kepaada mereka: “Kalian sungguh celaka! Tidakkah kalian mengetahui betapa singkatnya masa tinggal kalian di pulau itu?? Dan betapa berharganya nilai permata yang ada di sana? Bukankah kalian mengetahui bahwa pulau itu bukanlah tempat tinggal kalian yang sesungguhnya?? Bukankah kalian telah diberikan peringatan dan nasehat oleh para pembawa nasehat??!”

“Tentu, demi Allah! Kami sungguh mengetahuinya, tapi kami pura-pura bodoh. Kami telah dibangunkan namun kami pura-pura tidur. Kami mendengarkan namun kami pura-pura tuli dan tidak mendengarkan,” jawab mereka. Mereka hanya bisa menggigit jari dengan penuh penyesalan. Menangisi kelalaian mereka dengan air mata yang mengalir. Terdiam menyesal dan kebingungan. Berdiri menunggu apakah ada di antara orang-orang yang telah menjadi raja itu akan memberi syafa’at untuk mereka dan menyampaikan masalah mereka kepada raja yang diagungkan!

***
Sedangkan kelompok yang ketiga, mereka lebih galau lagi. Mereka telah merusak wilayah kekuasaan raja di pulau itu. Mereka datang seraya memikul dosa-dosa di atas punggung mereka. Putus asa. Diam membisu. Penuh kebingungan dan kelimpungan. Kaki mereka tergelincir. Penyesalan meliputi hati mereka. Rasa sakit telah mereka rasakan. Mereka dipermalukan di hadapan ummat manusia. Sang  raja yang diagungkan murka kepada mereka. Raja pun mengusir dan menjauhkan mereka dari istananya. Mereka sungguh-sungguh yakin bahwa kini siksa dan adzab-lah yang menanti mereka.

فَإِن يَصْبِرُوا فَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ ۖ وَإِن يَسْتَعْتِبُوا فَمَا هُم مِّنَ الْمُعْتَبِينَ

“Jika mereka bersabar (menderita adzab) maka neraka-lah tempat diam mereka, dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, maka tidaklah mereka termasuk orang yang diterima alasannya.” (QS. 41: 24)
***
Sahabatku…
Tidakkah engkau merasakan bahwa yang dikisahkan oleh Ibnu Qudamah itu sesungguhnya adalah kita sendiri? Bukankah penumpang bahtera itu adalah kita, dan bukan siapa-siapa? Tapi di manakah permata-permata itu?Atau mungkin kita sekarang ini sibuk membangun istana di pulau dunia ini. Bahkan mungkin kita telah mengoyak dan melanggar batas-batas kekuasaan Sang Raja di pulau ini?

Masih ada waktu, Sahabat. Panggilan perjalanan itu belumlah dibunyikan. Kita hanya perlu menentukan tujuan hidup di ‘pulau’ dunia ini. Penentuan itulah yang akan mengubah paradigma kita tentang dunia. Apakah ia hanya tempat persinggahan, atau justru di sinilah tujuan akhir kita berlabuh. Jadi, tentukanlah tujuan hidupmu.

Ditulis ulang dari artikel berjudul “Tentukanlah Tujuan Hidupmu!” karya Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., MSi., yang dimuat dalam majalah Islamy No. 1 Tahun 1/ 1426 H.

 

Comments (5)
  • dzul azmimo
    super pak arie....
  • abu zaid at terbani
    superrr....!!!!
  • Anonymous  - subhanallah
    itulah salah satu contoh tulisan dari ulama Islam. tentukan tujuan hidupmu!!!cita-citakanlah untuk dapat menatap wajah Allah ta'la wa ziyadah, yaitu surga firdaus...
  • Muspar  - lar bissa
    luar biassa
  • yahya  - alhamdulillah
    semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kita semua...mudah-mudahan amalan kita selama ini selalu ikhlas dan tulus hanya untuk mengharap keridhoan Allah Ta'ala...sukses buat wisma Al Madinah, semoga selalu melahirkan keder2 wisma yg tangguh dalam berdakwah, berilmu dan selalu beramal dengan hikmah...
Write comment
Your Contact Details:
Comment:
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.