Belajar Islam

Islam Untuk Semua

Friday, Mar 12th

Last update:09:28:03 AM GMT

You are here:

Al Jiddiyah

E-mail PDF

Pembaca belajarislam yang dirahmati Allah Subhanahuwata'ala, mari
kita teruskan kembali bersemangat untuk maju dan berubah untuk
kejayaan umat ini, beikut sifat jiddiyah yang keempat tentunya sangat
penting dan menentukan langkah kita kedepan, yaitu sifat kekasih kita
Rasulullah shalallahu'alaihiwasalam dan orang ornag yang berteladan
dengannya.

Allah Subhanahuwata’ala menciptakan manusia dan menyertakan kepada
setiap mereka keinginan dan obsesi maka tidak ada seorang pun yang
Allah biarkan hidup tanpa sebuah keinginan, oleh karena itu nama yang
paling sesuai untuk manusia adalah HAMAM, sebenarnya ini juga sudah
disabdakan oleh Qudwah kita Nabi Shalallahu’alaihi wasalam dalam
sabdanya: “Nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah dan
Abdurrahman, dan nama yang paling sesuai dalah HARIST dan HAMAM” [As
Suyuti dalam Al Jami’]

Al Mundziri memberikan penjelasan bahwa: HARIST dan HAMAM dikatakan
nama yang paling sesuai untuk manusia karena HARIST adalah yang
bekerja dan HAMAM dalah berkeinginan terus, kaarena setiap manusia
tidak pernah lepas dari kedua sifat tersebut, Allahu a’lam. Akan
tetapi Allah jadikan setiap mereka berbeda keinginannya, ada yang
senantiasa tidak mencukupkan diri dengan keiinginan yang biasa-biasa
saja dan ada yang mencukupkan diri dengan yang biasa-biasa saja,
berawal dari perbedaan inilah setiap kita punya cita-cita yang berbeda
pula. Pada episode ini akan kami sampaikan sisi yang sangat penting
tentang sifat orang yang bersungguh-sungguh selain sifat-sifat yang
lalu, seperti dikatakan oleh para ahli hikmah bahwasanya:
Cita-cita-yang tinggi- adalah bendera kesungguhan.


Apa yang dimaksud cita-cita yang tinggi?
Bercita-cita tinggi adalah ketika seseorang menganggap kecil/sepele
sesuatu yang dibawah sebuah cita-cita  yang paling tinggi. Adapun
dikatakan orang yang bercita-cita rendah adalah pada saat seseorang
tidak berhasrat untuk sebuah prestasi yang tinggi dan ridha dengan
sesuatu yang biasa-biasa saja.

Syikhul Islam berkata: “ Orang awam sering mengatakan bahwa “Harga
diri
setiap orang tergantung pada apa yang menjadikan dia dilihat
baik,” adapun orang-orang tertentu (ulama) mengatakan “Harga diri
seseorang sesuai dengan keinginannya.”

Salafushshalih senantiasa menasehati: “Jagalah cita-citamu karena itu
adalah permulaan dari amalmu, maka barang siapa benar cita-citanya dan
jujur maka benarlah amal-amal setelahnya.”

Ibnul Jauzi berkata: “Diantara tanda kesempurnaan akal adalah
cita-cita yang tinggi. Beliau juga mengatakan “ Saya tidak melihat aib
seseorang sebagai aib layaknya seorang yang mampu mencapai kederajat
kesempurnaan kemudian dia tidak mewujudkannya.”

Adapun obsesi tertinggi seorang mukmin secara mutlak tidaklah fokus
kecuali kepada Allah Subhanahuwata’ala, tidaklah meminta selainnya,
tidaklah berupaya kecuali untuk keridaanNya, tidak pula menjual
ketaatan kepadaNya dengan gemerlapnya dunia ataupun dengan segala
sesuatu yang
sifatnya fana, karena Allahlah yang tertinggi dan tempat
menggantungkan kecintaan yang tertinggi. Sebagaimana dikatakan oleh
Ibnu Al Qoyyim: “Orang yang tertinggi himmahnya adalahyang tertinggi
meraskan nikmatnya mengenal Allah mencintaiNya serta kerinduna akan
perjumpaannya.”

Sedangkan rendahnya obsesi seseorang merupakan sebab pertama seseorang
itu akan sampai kepada kekerdilan, kenistaan, dan ketidak eksisan.
Seandainya umat ini sudah merasa cukup ridha dengan realita yang ada
sekarang, serta penerus generasi mereka juga tidak memiliki obsesi
untuk sebuah perubahan maka mereka akan tereliminasi dalam laju
peradaban ini.

Adapun orang-orang yang senantiasa terpenuhi jiwanya dengan obsesi
tinggi maka merekalah revolusioner yang akan senantiasa mengukir
sejarah, sebagaimana kita telah melihat bagaimana sahabat-sahabat
Rasulullah mereka meruntuhkan imperium terbesar dan menaklukan dua
Negara adikuasa ( Romawi dan Persia) dizaman mereka juga
penaklukan-penaklukan yang lain seperti, India, Maroko, Spanyol dan
lain-lain. Begitu juga saat kemulian dan tingginya semangat juang kaum
muslimin seperti pada zaman Shalahuddin Al Ayyubi, mereka benar-benar
menghinakan musuh-musuh Allah, mereka mengikat setiap sepuluh tawanan
perang Nasrani dengan tali kemudian menukarnya dengan sandal. Pada
saat mereka ditanya kenapa? Mereka menjawab: Kami akan mengabadiakan
kehinaan dan kenistaan mereka, yaitu kami jual pejuang-pejuang mereka
dengan sandal. Maka benar-benar kehinaan mereka terabadiakan.

Ternyata seiring waktu berjalan, cita-cita yang diwariskan para
pahlawan sejati mengalami distorsi yang begitu memperihatinkan,
bagaimana pejuang-pejuang muslim dihinakan, didudukan kemudian
dihabisi dengan pedang-pedang musuh pada saat melawan pasukan tar-tar.
Bahkan kita juga menyaksikan sekarang bagaimana tanah palestina dijual
dengan harga yang sangat murah, hilangnya Al Quds serta dirampasnya
masjidil Aqsa. Juga pemandangan yang sangat memilukan hati, bagaimana
kaum muslimin irak bertekuk lutut dihadapan pasuakan-pasukan amerika,
bahkan ada yang merengek kepada pasukan kufar tersebut untuk meminta
belas kasihan, serta juga ada yang sampai mencium tangan-tangan busuk
mereka demi mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Pemandangan serupa juga senantiasa kita saksikan didepan mata kita,
bagaimana generasi kaum muslimin pada hari ini, nuasa kehidupan yang
sengat kental dengan budaya mengekor, taklid menunggu-nunggu
model-model kufar serta mengidolakannya.

Wahai saudaraku sesungguhnya anda sangat merindukan sesuatu yang kami
juga merindukan.

Kami senantiasa memimpikan sesuatu yang kami yakin anda juga
mengimpikannya hal tersebut.

Maka mulai detik ini pula, campakanlah jauh-jauh himmah duniamu itu!!

Ingatlah...himmahmu yang membumbung tinggi adalah kontribusi yang
sangat luar biasa harganya untuk kemuliaan islam.

Bolehlah kaki-kaki kita menapak dibumi ini, akan tetapi gantungkanlah
erat-erat himmahmu dilangit yang paling tinggi.

Ingatlah kekerdilan, kehinaan, kenistaan umat sekarang ini tidak lepas
dari kekerdilan obsesi kita.

Umar ibn Al Khatab berkata:” Janganlah engkau sekali-kali berobsesi
rendah sesungguhnya saya belum pernah melihat orang yang paling kerdil
dari orang yang berobsesi rendah.”

Ahli Balaghah mengatakan: “Uluwul Himmah merupakan nikmat yang tak
ternilai.” Jika Jiwa seseorang itu besar maka akan dicapaikan dengan
urusan-urusan besar pula.

Mu’awiyah pernah berkata: “Bercita-citalah kalian sesungguhnya saya
mencita-citakan khilafah maka saya meraihnya padahal banyak sekali
shahabat yang lebih berhak untuk meraihnya, barang siapa menginginkan
kecuali dia akan meraihnya.”

Umar bin Abdul Aziz berkata: “ Sesungguhnya aku memiliki jiwa yang
berkeinginan sanagat kuat, aku bercita-cita untuk tegaknya khilafah
maka saya memperolehnya, aku meginginkan menikahi putri seorang
khalifah maka aku mendapatkannya, aku bercita-cita menjadi khalifah
maka aku mendapatkannya, dan aku sekarang meninginginkan surga maka
aku berharap untuk mendapatkannya.


Dalil-dalil yang memerintahkan kita bercita-cita tinggi.
Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada
kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati
(Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. [QS.
Al Furqan: 74]

Jika engkau meminta surga, mintalah surga firdus karena firdaus adalah
surga yang paling tinggi [Mutafaqqun ‘Alaih].

Sesungguhnya Allah menyukai permasalahn yang tinggi-tinggi dan mulia
dan Allah  membenci yang biasa-biasa [HR. Thabrani no 2894]

Rujukan:
Uluwul Himmah karya Syaikh Muhammad Isma’il Al Muqaddam
Ar Rajul Ash shifr Durus Lisyaikh Ibrohim Ad Duwaisy.

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Comment:
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.